Sermalina Maniburi BINABAWA, PENUTUR CERITA DARI WAROPEN

June 21, 2026

Sermalina

 

 

enururkan cerita, meratapkan syair munaba, dari satu desa ke desa melalui lokasi sulit.

Profesi Binabawa sudah langka. Bayangkanlah seorang wanita tua menyusuri kawasan ber-lumpur yang ditumbuhi pohon-pohon bakau. la juga harus melalui tanah berbukit yang sedikit berkarang, tanah datar berjenis endapan sungai, atau hutan yang berbukit-bukit terjal. Semua dilakukannya untuk menjalankan tugas sebagai penutur cerita.

ltulah yang dijalani Sermalina Maniburi di Waropen (Papua) sejak 1980-an. Wanita kelahiran Kampung Nubuai, Kabupaten Waropen ini, sangat dikenal oleh lingkungan keluarga besar Suku Nubuai sebagai Juru Munaba atau Binabawa. Wanita yang lahir pada 27 April 1931 ini, dinilai sangat mampu meratapkan syair-syair munaba dengan baik.

Sudah menjadi tradisi, khususnya di Waropen, dilakukan penuturan cerita pada saat terjadinya kematian.
Dinamakan Yanisa Munaba (berasal dari kata yanisa artinya ‘dia’ dan munaba artinya ‘nyanyian besar’) bila disajikan ketika jenazah masih disemayamkan di rumah duka sampai jenazah diantar ke pemakaman. Dinamakan Owa Munaba (owa artinya ‘dansa’ dan munaba artinya ‘nyanyian besar’) bila disajikan setelah jenazah dimakamkan.

Penelitian Dharmojo (Dharmojo, 1998. Penuturan Cerita Rakyat Waropen lrian Jaya: Kajian Etnografi Komunikasi)
menyebutkan bahwa penuturan cerita rakyat Waropen dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. Yaitu penuturan cerita kehidupan yang terdiri dari penuturan cerita anak-anak dan penuturan cerita remaja/ dewasa; serta penuturan cerita kematian berbentuk nyanyian-ratapan, yang dibedakan menjadi Yanisa Munaba dan Owa Munaba.

Penutur cerita biasanya wanita yang disebut Mino (ibu-ibu), Binabawa (wanita tukang cerita), dan Ghori (nenek). Dari kalangan pria, tampaknya tidak tertarik pada profesi ini. Andai pun ada, terbatas pada Fofo (kakek) dan pria keturunan Sera (raja atau bangsawan). Untuk menjadi pendengar pun baik remaja maupun dewasa, laki-laki kurang berminat, karena kurang sabar.

Penuturan cerita yang topiknya cenderung pada jenis mite, legenda, cerita sejarah asal-usul keluarga, cerita makhluk gaib ini, memang memakan waktu lama. Yanisa Munaba, yang biasanya dilakukan di sekeliling jenazah, berlangsung siang-malam selama jenazah belum dimakamkan. Sedangkan Owa Munaba, yang biasanya dilakukan di wundo (lorong bagian tengah rumah besar), di rarawa (teras rumah besar), atau di halaman depan rumah bisa berlangsung semalam suntuk hanya diselingi beberapa kali istirahat untuk minum dan makan.

Meskipun masyarakat Waropen adalah penganut agama protestan, sehari-hari belum bisa menghilangkan kepercayaan adanya roh rosea (bayangan) dari orang yang sudah meninggal, yang dipercayai memiliki berbagai bentuk, di antaranya sebagai kalong, binatang hitam yang terbang tanpa suara di malam hari dan berdiam di tempat keramat seperti gua, sungai, pohon besar.

Sebetulnya Sermalina sudah mengenal pekerjaan penutur cerita sejak kecil. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara pasangan Hendrik Maniburi dan Alberthina Sawaki ini, sering ikut ibunya pada saat menjadi Binabawa. Kemampuan meratapkan munaba, juga merupakan warisan dari ibunya yang konon pada masa itu dikenal sebagai wanita golongan Mosaba (wanita cantik/wanita keturunan bangsawan).

Ciri khas Mosaba dengan jelas juga terpatri pada diri Sermalina, sehingga ia sangat disayang oleh keluarga yang sudah mengenal ibunya.

Namun, pada awalnya, Sermalina tidak langsung menekuni profesi Binabawa. Setelah sempat tiga tahun mengikuti pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) hingga tahun 1942, di tempat kelahirannya, pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, ia tak diizinkan melanjutkan pendidikannya ke Serui – kini ibukota Kabupaten Yapen. Bukan saja karena berkecamuknya Perang Dunia II, tetapi juga karena masih terkungkung oleh adat kebiasaan yang tidak membolehkan anak perempuan keluar jauh dari lingkungan tempat tinggalnya, dan yang paling prinsip adalah karena kemampuan ekonomi orangtuanya yang sangat terbatas.

Dalam keadaan demikian, ia memutuskan untuk bekerja apa adanya di rumah keluarga seorang guru asal Ambon, yaitu guru Pelokan selama tiga tahun Kemudian ia kembali ke rumah keluarganya hingga akhirnya menikah dengan Marthen Jenusi pada tahun 1952.

Kehidupan rumah tangganya rukun dan damai hingga terjadinya banjir
bandang yang melanda Kampung Nubuai. ltu sebabnya, ia kemudian pindah bersama suaminya ke pemukiman baru di dataran Urei Fasei. Kehidupan di pemukiman baru itu menuntut kerja keras. Untuk itu, dengan kemampuan yang ada, ia berusaha membantu suaminya dengan menjadi nelayan tradisional.

Mata pencaharian masyarakat Waropen yang utama adalah
menokok (mengolah) sagu untuk menjadi tepung sagu. Tapi juga banyak masyarakat yang bermata pencarian menangkap ikan. Dengan menjadi nelayan, Sermalina sempat menjalani kehidupan yang sederhana dan bahagia bersama keluarga. Namun malang tak dapat ditolak, Tuhan memanggil Marthen Jenusi pada tahun 1981.

Sejak itu Sermalina hidup menjanda dan tinggal bersama anak-anaknya. Sejak itulah pula Sermalina menekuni profesi yang sama dengan ibunya dulu. la kemudian melengkapi pengetahuan dan kemampuan meratapkan munaba yang diperoleh dari ibunya itu, dengan ilmu dari ketiga saudara ibunya – lnggerus Sawaki, Woromuni Sewaki, dan Rahel Sawaki – yang juga berprofesi sebagai Binabawa. Juga dengan cara berlatih bersama teman-teman seprofesi, antara lain Juliana Wopari.

Pengetahuannya ia tumpahkan untuk menuturkan cerita dengan sepenuh hati. Bahkan meski harus melalui perjalanan yang sulit, dengan curah hujan tidak menentu sehingga sulit untuk membedakan musim hujan dan musim kemarau, ia tetap bisa menuturkan cerita dalam situasi yang akrab, santai, penuh rasa kekeluargaan tetapi tetap hikmat.

la tetap bisa membawakan cerita-cerita yang biasanya berfungsi menanamkan nilai-nilai, ajaran, nasihat yang berguna dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Misalnya berhati-hati dalam bertindak, saling menolong, kebersamaan, kesetiakawanan, keikhlasan, kejujuran, keadilan, upaya penyelamatan dan pemeliharaan nilai-nilai positif lainnya (nilai estetika, etika, filsafat, dan religi).

Sermalina bisa meratap pada saat Yanisa Munaba dengan tanpa menggunakan peralatan khusus sama sekali. la juga bisa menyanyi di Owa Munaba dengan iringan siwa bawa (tifa besar) yang ditabuh penari laki-laki dan bon (tifa kecil) yang ditabuh penari wanita.

Bila satu sore terdengar suara kentungan bertalu-talu di sekitar Waropen, tanda adanya kematian, bisa jadi ada Sermalina di sana. Sebab, sebagaimana disampaikan oleh Dharmojo sebagai peneliti, Binabawa sudah langka dan karena perannya sangat besar dalam penuturan cerita rakyat perlu adanya pengkaderan sejak dim.

Sermalina sendiri tidak segan-segan mewariskan kepada generasi muda. Yaitu dengan mengajak wanita-wanita muda, yang ia harapkan kelak menjadi Juru Munaba, ke Yanisa Munaba atau Owa Munaba, supaya melihat dan ikut meratapkan atau menyanyikan syair-syair munaba. Atau pada saat para wanita berdayung bersama mengumpulkan kerang, kepiting di hutan bakau, bersama-sama melantunkan syair-syair munaba.

Bahkan pada saat bersantai di rumah, Sermalina menerima kunjungan para wanita muda yang ingin menjadi Juru Munaba. Pada saat itu Sermalina sebagai Juru Munaba melantunkan syair-syair munaba untuk mereka dengarkan.