Serang Dakko HIDUPNYA UNTUK MENABUH GENDANG

June 21, 2026

SerangDako

engalaman menabuh gendang sejak anak-anak, membawa Serang Dakko berkeliling dunia. Meski risikonya tak pernah bisa menunggui istrinya, setiap kali melahirkan anak-anaknya.

Siapakah penabuh gen-dang terkemuka Sulawesi Selatan? Siapa lagi kalau bukan Serang Dakko, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk seni pertunjukkan tradisional, lewat instrumen gendang yang digelutinya sejak kecil. Rasanya tak ada kebahagiaan di muka bumi ini, bagi dia, selain menabuh gendang. Sehingga ia bisa tahan bermain gendang semalam suntuk untuk mengiringi per-tunjukan tari Pakarena yang juga dibinanya.

Serang Dakko, yang akrab dipanggil Daeng Serang, lahir di desa Kalse’ rena, di daerah Gowa, Sulawesi Sela tan, pada tahun 1939. la dikenal dalam kalangan seniman tradisional di Sulawesi Selatan sebagai penabuh gendang Makassar yang sangat piawai. Semasa kanak-kanak, di zaman penjajahan Belanda, ia diajari menabuh kendang oleh ayahnya, Daeng Parancing. Disamping itu, sejak dalam usia yang masih sangat muda, sekitar zaman Jepang I awal kemerdekaan Republik Indonesia, ia sudah diajak berkeliling oleh rombongan kesenian ayahnya memenuhi undangan untuk pementasan.

Ketika itu, tahun 60-an, seniman-seniman besar daerah ini, seperti lbu Nani Sapada dan Daeng Paselleng, ikut berlatih gendang kepada Daeng Parancing. Sehingga Serang Dakko dapat dengan cepat berkenalan dengan mereka dan mengiringi tari-tari lbu Nani dalam berbagai kegiatan bersekala besar.

Ketika usianya menapak 32 tahun, semasa Orde Baru ketika sandang pangan tidak sesulit dan semahal sekarang, ia menikahi seorang gadis di desanya, yang bernama Daeng Baji. Mahligai rumah tangganya pun, ia bina dengan cinta dan kasih sayang. Sehingga dari perkawinannya itu, ia dikaruniai 4 orang anak, yakni Cece, lndrawati, lrwan, dan Arianto. Namun sayangnya setiap kelahiran anak-anaknya tersebut, ia tak ada ditempat, sehingga tidak bisa mendampingi istrinya bersambung nyawa. Lantaran ia selalu berada di luar daerah Sulawesi Selatan, apalagi kalau bukan untuk menabuh gendang dalam pertunjukan seni tradisional. “Ketika anak saya pertama dan keduanya lahir, saya sedang berada di Thailand dan Singapura. Sedangkan pada saat kelahiran anak saya yang ketiga dan keempat, saya pertunjukan di Bali dan Jakarta,” tutur Daeng Serang mengakui.

Untuk mengokohkan keberadaan, sekaligus pengabdiannya kepada gendang, atau lebih luasnya seni pertunjukan Makassar tersebut, pada tahun 1990 ia mendirikan Sanggar Alam di Benteng Somba Opu. Dinamakan Sanggar Alam, karena mereka yang bergabung didalamnya adalah seniman-seniman tradisional yang dilahirkan dan dibentuk dari alam. ” Saya tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di bangku sekolah,” tuturnya.

Di Sanggar Alam ini Daeng Serang mengajarkan tari klasik Pakarena, kepada generasi muda yang meminatinya. Di samping itu ia pun merangkul beberapa seniman tua penari Pakarena bergabung di sanggarnya. Sehingga dalam beberapa kali pertunjukan ia masih bisa mempertunjukkan tari klasik tersebut yang didukung oleh berbagai generasi. Mulai dari usia belasan sampai penari yang sudah berusia 60 tahun.

la masih ingat sebuah peristiwa tahun 1991 yang mempengaruhi jalan hidup dia selanjutnya. Pada waktu itu, Dr. Muchlis PaEni selaku Pengelola Proyek Pembangunan Taman Mini Sulawesi Selatan Benteng Somba Opu, meminta dirinya untuk pindah dan bertempat tinggal di kawasan benteng tersebut. Sekaligus menjadi tenaga keamanan (Satpam) di sana. Dania pun menerima.

Apa yang kemudian terjadi? Di tempatnya yang baru itu, Daeng Serang menempati salah satu anjungan (rumah tradisional} yang ada di sana. Sambil menjadi tenaga keamanan, ia pun dengan leluasa mengembangkan kreativitas seninya, sekaligus melatihkan ilmu dan keterampilannya kepada generasi muda yang ingin belajar seni menabuh gendang. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, dan oleh karena itu ia tak pernah lupa dengan Dr. Mukhlis PaEni, yang kini menjabat Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Bahkan lebih jauh dari itu, ia pun leluasa menerima undangan untuk bermain dalam bebagai acara tradisi. Misalnya perkawinan, hakika, sunatan, naik rumah baru, atau acara syukuran. Selain itu Serang Dakko bersama kelompoknya juga kerap menerima undangan dari berbagai acara seremonial dl instansi-instansi pemerintah ataupun swasta. Bahkan setiap malam perayaan Imlek, selalu tampil di kelenteng Macho (lbu Agung Bahari) di Jalan Sulawesi Makassar.

Seabrek pementasannya itu, sekaligus menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat Sulawesi Selatan masih mencintai tradisinya. Sudah dapat dipastikan, kalau masyarakat sudah tidak cinta lagi, maka Serang Dakko bersama kelompoknya akan tamat. la memang merasakan dewasa ini minat masyarakat terhadap seni tradisional di Sulawesi Selatan, mengalami penurunan. Hal ini, disebabkan oleh semakin mudahnya orang mendapat hiburan moderen seperti televisi, kaset, VCD, dan internet bagi kaum muda. “Alhamdulillah, sampai sekarang masih banyak orang memanggil kami untuk bermain gendang baik dalam kelompok kecil 6 orang ataupun bermain gendang rampak dalam jumlah puluhan orang, juga Pakarena,” ujarnya.

Berkat kepiawaiannya dalam bermain gendang dan mengiringi tari “Pakarena” tersebut Daeng Serang telah melanglang buana. Negara yang telah dikunjunginya antara lain Amerika, Hongkong, Thailand, Singapura, Malaysia, dan beberapa negara Eropa. Dan ia nampak bangga,karena beberapa Negara tersebut telah dikunjunginya lebih dari satu kali.

Ketika ditanya mana kunjungan yang paling berkesan, ia spontan menjawab Thailand. la dan kawan-kawannya, berkunjung ke negeri gajah putih tersebut – apalagi kalau bukan untuk pementasan gendang dan Pakarena — pada tahun 2004. Bagaimana tidak disebut paling berkesan, karena bisa selamat dari bencana Tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa itu. la berada di Thailand pada bulan Desember dan melakukan pertunjukan beberapa hari disana. Bertepatan dengan dunia merayakan Natal, 25 Desember, ia dan rombongan meninggalkan negara itu kembali ke Indonesia dan pada keesokan harinya, tanggal 26 Desember bencana itupun terjadi. Hotel tempat ia dan rombongan menginap selama di Thailand, dan pantai tempat jalan-jalan diwaktu senggang, luluh lantah dilanda gelombang raksasa air laut.

Dengan logika orang Timur yang percaya pada tanda-tanda alam, keselamatan dirinya bersama kelompoknya dari amukan Tsunami tersebut dibaca sebagai amanah agar dalam sisa hidupnya ini terus menyelematkan tradisi. “Mungkin ini petunjuk dari Atas, bahwa saya harus tetap hidup untuk meneruskan tradisi yang telah diwariskan kepada saya, dan mewariskan kepada yang muda-muda,” ungkap Daeng Serang Dakko seraya mengisap rokok yang setia menyelinap dalam jepitan dua jari (telunjuk dan tengah), kemudian mengepulkan asap ke udara lepas.