
aidi? Saidi Kamaludin? Tak jauh dari sini. Dua tikungan di depan, lalu belok kanan, tanya saja di sana mana rumah Saidi si “Raja Semalam”. Semua orang yang tinggal di lingkungan itu pasti tahu.
Ungkapan “Raja Semalam” tampaknya begitu melekat pada Saidi, lelaki kelahiran 1938 di Desa Pemulutan, Kecamatan Ogan Komering Ilir (kini Ogan Ilir), Sumatera Selatan. Berkat perannya sebagai raja yang kerap ia mainkan selama hampir separuh abad dalam lakon teater tradisi Abdul Muluk atau biasa disebut Dulmuluk, lelaki tinggi-besar ini ternyata lebih dikenal oleh para tetangganya lewat sosok tokoh yang ia perankan itu daripada nama lengkapnya: Saidi Kamaludin!
Benar saja. Begitu melintas di jalanan yang tak bisa dipapasi kendaraan roda empat, seorang anak kecil yang ditanya langsung menunjuk sebuah rumah sangat sederhana (RSS) tipe 36 di kompleks Griya Gandus; sebuah perumahan di pinggiran Kota Palembang, ke arah hulu Sungai Musi. lni rumah Saidi? “Bukan, rumah Pak ‘Raja Semalam’, pemain Dulmuluk” kata sang bocah lugu.
Rumah tanpa halaman itu masih seperti bentuk aslinya ketika ditempat awal 1990-an. Sebuah sepeda motor diparkir di beranda depan yang sempit, menghalangi jalan menuju pintu masuk yang siang itu terbuka lebar. Di ruang tamu cuma terlihat seperangkat kursi tamu sederhana. Warna merah marun yang melekat mulai pias dan sedikit robek di beberapa tempat.
Meski sudah beberapa kali ketukan di daun pintu dan salam disuarakan, tak juga tampak banyangan penghuni rumah. Sepi. “Ketuk saja terus. Kalau siang-siang begini biasanya dia selalu ada,” kata salah seorang tetangga pemilik rumah yang kebetulan melintas. Baru setelah ketukan sedikit diperkeras dan intonasi salam pun agak ditinggikan, dari dalam terdengar suara lelaki tua terbatuk-batuk. Tak lama berselang sang “Raja Semalam” pun muncul di depan pintu, hanya berkain tanpa penutup badan.
Sembari menyilakan tamunya masuk, ia segera menyambar kemeja batik yang tersangkut di tembok rumah, dan mengenakannya sambil berucap, “Sejak semalam aku ni batuk-batuk terus. Belum lagi kepala agak pusing. Baru gek sore ado rencano ke dokter untuk minta obat.”
Bagai sudah akrab dengan tamunya, ia terus saja ngoceh tentang penyakit yang mulai kerap menderanya. la juga bercerita tentang rencana grup Abdul Muluk “Setia Kawan” yang ia pimpin akan menggelar pertunjukan malam harinya di daerah Karangayar, masih di wilayah Kecamatan Gandus. Kendati itu adalah perjumpaan kami yang pertama, lelaki yang sudah menggeluti teater tradisi Dulmuluk sejak 1950 tersebut tak merasa perlu
Tokoh acuan
Meski tak tamat SD, sosok Saidi Kamaludin memang sangat menonjol di antara para pemain dan penggiat teater tradisi Dulmuluk di Sumatera Selatan. Apalagi sejak 1990-an, kakaknya, Arjo Kamaludin- yang sebelumnya dikenal sebagai dedengkot Dulmuluk- tak lagi bermain sampai akhir hayatnya, Saidi bagai menjulang sendirian di tengah kian suramnya masa depan seni tradisi ini.
Sebagai pemain memang ada sejumlah nama yang memiliki cukup talenta di pentas Dulmuluk. Taruhlah seperti Jonhar Saad, Anwar Arang, Sopar, dan Wak Pet. Akan tetapi, sebagai sosok yang bisa dianggap merepresentasikan seni Dulmuluk, Saidi tetapkan tokoh acuan bagi rekan-rekannya. Dan itu bukan lantaran ia sebagai pimpinan grup bisa bebas memilih peran-peran menonjol, tetapi lebih karena totalitasnya dalam mengabdikan diri pada salah jenis tontonan rakyat ini. Apalagi hampir seluruh hidupnya memang ia leburkan bersama perjalanan panjang Dulmuluk, yang juga ikut memberinya napas kehidupan.
“Kalu lamo dikit idak maen, rasonyo tebayang-banyang. Tapi kalu lagi dapat panggilan maen Dulmuluk, yang ado cuma ladas. Apalogi kalu jadi rajo,
perasaan hati ini pecak jadi rajo nian: makan nak lemak, make nak bagus. Sampai-sampai dak tau kalu beras (di rumah) habis,” tutur Saidi dalam bahasa Melayu-Palembang pasaran.
(Kata Saidi, bila agak lama tidak bermain Dulmuluk, ia merasa selalu terbayang-bayang akan peran yang kerap ia mainkan. Akan tetapi, bila mendapat tanggapan untuk bermain Dulmuluk, yang ada cuma kegembiraan. Apalagi bila mendapat peran peran sebagai raja, perasaan di hatinya benar-benar seperti raja: makan ingin yang enak, pakaian ingin yang bagus. Sampai-sampai lupa kalau di rumah tidak ada beras untuk makan anak dan istri.
Dari keberaksaraan ke kelisanan

Saidi memang telah mengenal Dulmuluk sejak kecil. Orangtuanya, (alm) Kamaludin, adalah generasi pertama yang mewarisi seni tradisi ini. Bersama Pasirah Nuhasan dari Desa Tebingabang, Rantau Bayur (kini wilayah ini masuk Kabupaten Banyuasin), keduanya berguru dan berlatih Dulmuluk pada Wan Bakar di daerah Tangga Panjang, Kelurahan 7 Ulu Palembang. Sumber lain menyebutkan, Wan Bakar kerap menghadirkan pertunjukan Dulmuluk dalam bentuk pembacaan kisah tentang Abdul Muluk di kawasan Tangga Takat, Kelurahan 16 Ulu.
Wan Bakar adalah pedagang keturunan Arab yang datang ke Palembang dari Riau di awal abad ke-20. Boleh dikata, dialah tokoh ‘pencipta’ teater tradisi Dulmuluk, meski inspirasinya berangkat dari nukilan kisah Raja Abdul Muluk dalam teks syair Melayu klasik berjudul Syair (Sultan) Abdul Muluk.
Tidak seperti dugaan banyak orang, yang menganggap syair ini karya Raja Ali Haji, teks-teks dalam Syair Abdul Muluk sesungguhnya karya seorang penulis perempuan. Dia adalah Saleha, saudara perempuan Raja Ali Iba Raja Achmad Iba yang dipertuan muda Raja Haji Fi Sabilillah, dan ketika pertama kali teks syair itu diterbitkan pada tahun 1847 diberi judul: Kejayaan Kerajaan Melayu.
Oleh Wan Bakar, teks Syair Abdul Muluk yang antara lain berkisah tentang petualangan Abdul Muluk Jauhari, Sultan Abdul Hamid Syah yang bertakhta di Negeri Berbari itu dilisankan pada malam-malam sehabis ia berniaga. Cara Wan Bakar melisankannya ternyata menarik perhatian sebagian masyarakat Palembang.
Sejak itu, Wan Bakar kerap diundang untuk membacakan kisah tentang Abdul Muluk pada berbagai perhelatan. Taruhlah seperti acara perkawinan, khitanan, atau syukuran saat pertama mencukur rambut bayi. Saat kisah itu dilantunkan, para pendengarnya duduk membentuk setengah lingkaran. Sejak itu pula banyak orang ingin berguru kepadanya. Pada perkembangan berikutnya, Wan Bakar- bersama murid- muridnya-memasukkan unsur gambus dan terbangan (sejenis rebana) sebagai pengiring. Bentuk pertunjukan pun diperkaya. Jika semula Wan Bakar tampil untuk semua tokoh dalam cerita, belakangan para muridnya ikut dilibatkan melisankan syair sesuai tokoh yang mereka perankan.
Pada tahun 1919 tercatat pertama kali pembacaan teks dibawakan dalam bentuk dialog, disertai gerak tubuh. Pertunjukan pun sudah di lapangan terbuka. Dalam perkembangan berikutnya para tokoh dilengkapi kostum khusus, sudah merias diri, dan menggunakan properti seadanya. Perangkat musik pun ditambah gendang, biola, tetawak (gong), dan jidur alias gendang ukuran besar. Dan pada tahun 1942, pementasan Dulmuluk sudah seperti halnya pertunjukan teater tradisi pada umumnya yang tampil saat ini.
Keberadaan Dulmuluk di Sumsel sempat mencapai puncak kejayaan pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Ketika itu ada puluhan grup Dulmuluk. Bahkan wilayah apresiasinya tercatat hingga ke Pulau Bangka dan Belitung. Di banyak tempat, Dulmuluk menjadi semacam tontotan “wajib” bila ada perhelatan.
Pemain Dulmuluk seperti Saidi Kamaludin pun menjadi bintang panggung, dikenal luas hingga ke berbagai daerah. Tak aneh bila pada masa itu Saidi banyak mendapat order. Bukan saja untuk bermain, tetapi juga permintaan sebagai pelatih Dulmuluk. Akan tetapi, masa kegemilangan Dulmuluk itu kini sud ah berakhir. Meli hat kenyataan ini, ada duka menyelimuti Saidi ayah dari enam anak dan 26 cucu-yang kini hidup tanpa pekerjaan lain selain menghidupi Dulmuluk bersama istrinya, Mariana (57). Kegalauan itu tak bisa 1a sembunyikan, sampai-sampai ia berucap, “Aku kapan bae dapat panggilan (Tuhan), tapi kesenian ini jangan sampai ikut mati. (*)