Meski keturunan Tionghoa, ia sangat cinta Indonesia. Niatnya adalah menjunjung tinggi budaya Indonesia. Ia bukan hanya berkesenian tetapi juga mendokumentasikannya.
eristiwa Mei 1998, yang membuat masyarakat keturunan Tionghoa di Jakarta ketakutan, memprihatinkan Tan Deseng. Sebab, ia sendiri meski keturunan Tionghoa tidak mengalami hal seperti itu. ”Saya mempunyai kesimpulan, saya jarang menemukan hal-hal demikian karena mendapatkan saling cinta, saling asuh. Tidak melalui kekuatan ekonomi, politik, melainkan dari kesenian,” ujar Tan Deseng.
Maka, pria yang nama aslinya ditulis dengan Tan De Seng—kemudian ia ubah menjadi Tan Deseng—ini pada bulan Agustus 2000 mendirikan sanggar Pasundan Asih. “Tujuannya mengajak saudara-saudara dari segala etnis bangsa Indonesia, termasuk etnis keturunan Tionghoa, untuk bersama-sama menjunjung tinggi budaya bangsa kita sendiri,” ujar Deseng.
Pria yang akrab dipanggil Koh Deseng ini berprinsip, kendati leluhurnya asli Cina, “Tuhan menakdirkan kita lahir dan hidup di negeri Indonesia. Saya dilahirkan dan dibesarkan oleh alam di sini. Beras di sini yang jadi daging saya, air di sini yang jadi darah saya.” Dengan begitu, LANJUTNYA, harus berupaya untuk memiliki adat-istiadat yang sama dan memiliki pandangan yang sama. “Memang fisik saya keturunan Tionghoa, tetapi jiwa saya sebenarnya orang Sunda,” ujar Deseng.
Di rumahnya di kawasan Pasteur, Bandung, yang ia tinggali sejak tiga tahun lalu, terpampang tulisan besar ‘Pasundan Asih’ . “lni rumah merangkap sanggar, dikontrakkan oleh sanggar, dengan bantuan donatur,” tutur Deseng tentang rumahnya yang berluas 700 Meter persegi itu. Di sanggar itu pula ia mengajar untuk beragam jenis kesenian—tari, musik, vokal—dengan hanya dibantu tiga orang asisten.
Kepiawaian Deseng dalam olah seni Sunda sudah banyak mendapat pengakuan. Di antaranya berupa penghargaan dari Pemda Jawa Barat atas pengabdiannya sebagai seniman musik tradisional Sunda (2004). Ia juga diminta tampil di Jamz (1995), Jakjazz (1996), pembukaan Konferensi Asia Afrika di Bandung (2005). Yang sangat membanggakannya, ia mendapat kenang-kenangan tongkat komando dari Jenderal Abdul Haris Nasution.
Sebetulnya, orangtuanya—pasangan Tan Njing Hong dan Yo Mbok Djie—meski ahli sastra Mandarin tidak menyetujui anaknya menjadi seniman. Mereka melarang keinginan Deseng masuk sekolah musik setamat sekolah rakyat. “Karena pada kebiasaan di Tiongkok kuno, kalau orang nyanyi-nyanyi pakai gitar, biasanya di tempat perempuan nakal,” jelas pria kelahiran Bandung, 22 Agustus 1942 , yang sejak usia lima tahun pandai meniup harmonika.
Ayahnya yang sehari-hari adalah sinshe menginginkan anak-anaknya menjadi pedagang. Setamat SMP, Deseng sempat menjadi pedagang besi di Palembang. Tetapi anak kedua dari delapan bersaudara ini tidak tahan.

Deseng, yang sejak kecil gemar nonton wayang golek, tak bisa melupakan musik Cianjuran yang menurutnya sangat indah. Sejak itu ia memutuskan untuk teguh berkesenian. Ia mulai belajar kecapi, yang menurutnya bunyinya sangat indah. “Saking kepingin belajar kecapi, yang paling gampang adalah mencari pengemis. Saya tanya bagaimana caranya main. Saya nyuri kemeja (merek) Arrow punya ayah saya untuk pengemis,” tutur Denseng.
Ia juga belajar suling dari kakaknya, dan belum genap usia 10 tahun sudah mampu memainkan suling degung. Pada usia 13 tahun ia sudah mahir memetik gitar, sampai-sampai mendapat julukan ‘anak ajaib’ karena pada sekitar tahun 1950-an itu jarang ada yang bisa memainkan gitar boogie. Padahal, yang belajar gitar adalah kakak sepupunya. Denseng, yang jadi pembawa gitar sang kakak sepupu hanya memerhatikan dari jauh. “Begitu pulang, saya pinjam gitar teman. Saya ngulik-ngulik, sampai akhirnya saya lebih mahir daripada kakak saya,” tutur pemain band pop Sunda, Hamming Youth, ini dan pernah dikenal sebagai ‘Si Setan Melodi’.
Meski akrab dengan musik modern, Deseng yang mempelajari lagu-lagu Cianjuran dari Nyi Mas Saodah, legendaris lagu Cianjuran, serta belajar tari Ketuk Tilu dari Titim Fatimah (alm), lebih suka disebut seniman seni tradisional. Ratusan muridnya, terdiri atas anak-anak sampai dengan ibu-ibu, ia arahkan pada seni tradisional. Di antaranya 200 orang ibu keturunan Tionghoa, pandai memainkan lagu-lagu Sunda yang sangat klasik. Meski begitu, ia tak memungut blaya sama sekali dari murid-muridnya.
Menurutnya, sanggar tidak sepantasnya membebani murid. “Prinsip saya, saya mencintai seni, tapi bukan untuk dagang. Mau jadi uang, syukur, enggak juga saya tetap senang,” ujar Deseng yang merasa senang karena justru sanggarnya bermanfaat untuk dapur anggotanya.
Ia bersyukur mendapat dukungan dari banyak donatur, antara lain tokoh-tokoh masyarakat seperti Ibu Ade Tjahjadi, Ibu Oce Junjunan, dan Jenderal Agum Gumelar. Walaupun akhirnya Deseng merasakan juga belakangan ini terasa berat. “Dari tahun ke tahun semakin terasa sangat tidak balance,” ungkap Deseng.
Beberapa kali sanggarnya diminta untuk tampil dengan pembayaran, yang menurut Deseng, tidak komersial. Umumnya berkisar Rp 1 juta untuk jumlah pemain sedikit dan Rp 25 juta-Rp 40 juta untuk kolosal. Sejak berdiri, sanggarnya sudah empat kali mengadakan pergelaran ke luar negeri, antara lain ke Singapura dan RRC atas nama Indonesia, tapi belum mendapat perhatian dari pemerintah.
Deseng pernah mengajukan proposal ke pemda setempat senilai Rp 2 miliar, tapi belum mendapat jawaban. “Dana itu bukan untuk saya pribadi. Kalau saya pribadi sudah dicukupi oleh anak-anak saya,” ujar duda dengan tiga anak dan dua cucu ini. Lagi pula, ia bersama kedua anak perempuannya, Fitri dan Tantri, sering tampil secara pribadi dengan nama Trio Tan membawakan tembang-tembang Sunda Cianjuran. Fitri menari dan memetik kecapi, Tantri selain menari juga juru mamaos. Sementara Deseng sendiri bermain suling.
Ia juga banyak menciptakan lagu pop Sunda dan pop Indonesia. Deseng punya kelebihan dalam membuat notasi. Bahkan untuk karawitan, ia bisa buat notasinya hanya dari mendengarkan. Deseng juga banyak diminta membuat ilustrasi musik untuk beberapa film. Di antaranya Si Kabayan dan Misteri Jaipong. Tapi beberapa ia jual lepas tanpa menyebut namanya. “Buat saya, nama enggak penting. Tetap saja sejarah akan tahu yang sebenarnya,” kilahnya.
Nah, dana yang diajukan dalam proposal ke pemda tersebut, selain untuk pengelolaan sanggar adalah untuk pengembangan studio dan perawatan ribuan master kaset yang sekarang masih belum disimpan dengan benar. Pria berambut gondrong ini memperlihatkan studio rekamannya yang sudah mulai ia buka sejak tahun 1964, meski harus berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain.
“Di Indonesia, untuk home studio saya yang lebih dulu,” tutur Deseng, yang sejak tahun 1950-an sudah suka membuat rekaman meski hanya dengan tape recorder sederhana.
Studionya mulai berkembang ketika seorang pengusaha memintanya membuat jingle iklan. “Karena saya mahir main gitar, dia minta dibuatkan iklan. Saya bilang, tape saya jelek. Katanya, ‘Biar saya yang beli’. Akhirnya saya buat iklan dan sangat populer,” tuturnya. Lalu iklan demi iklan menjadi modalnya melengkapi studionya. Namun, tiga tahun terakhir, ia tak sanggup mengejar era digital.
Melalui studio rekamannya, Deseng—yang juga pandai mengalunkan dan menciptakan kawih—memiliki ribuan master rekaman kesenian tradisional Sunda. “Itu harus diselamatkan dulu untuk bahan sejarah. Itu akan saya serahkan kepada negara, mumpung saya masih hidup, masih bisa menangani, karena saya yang paham tentang otobiografinya, musikologinya,” ujar seniman bertinggi berat badan 170 cm dan 50 kg ini, yang kolesterolnya sekarang tinggi dan tak kuat lagi begadang untuk rekaman.
Pemeliharaannya sekarang di dalam rak berkaca, kulit kasetnya dus biasa. “Dengan kondisi saya yang begini, jangankan untuk mengungkapkan ke dunia, untuk memelihara agar tidak dimakan kutu juga sudah bagus. Itu memerlukan dana yang serius. Untung sekarang saya kontrak di rumah yang bagus. Saya pernah kontrak di rumah setengah tembok. Master yang paling hebat, Pantun Beton, hilang. Dibuka sudah jadi sarang semut. Nah, di situ saya timbul pikiran, sudah saatnya pemerintah harus turun tangan,” tegasnya. (Tim ATL/RSH)