“Jampe”, Ritual Penyembuhan dalam Masyarakat Betawi

June 18, 2026

Jampe5

Dalam tradisi lisan  Betawi, semua jenis  penyakit—baik ringan,  berat, maupun kiriman—dapat diikhtiarkan  penyembuhannya  dengan jampe

 

Yahya Andi Saputra


rung-urung tempolong kapur

Urung tumbuan

Jadi tempolong kapur

Jadi tumbuan

Urung tempolong kapur

Urung tumbuan’

 

ITU contoh tuturan jampe atau mantra yang ada di masyarakat Betawi. Jampe itu dibacakan oleh dukun atau bebongkot untuk menyembuhkan sakit tumbuan (sesuatu yang tumbuh  pada tubuh), misalnya gondongan atau bengok (beguk atau gondok), dampa,

brahma, giduh, sekelan, sresel, bisul, dan  bintit. Varian itu tidak mutlak karena penyebabnya berbeda. Prinsipnya, dipukul  rata menjadi rumpun yang sama.

Namun,  penyakit tersebut dapat disebabkan faktor ilmiah dan nonilmiah. Faktor ilmiah  karena virus, jamur, dan bakteri. Adapun  faktor nonilmiah berupa ketemplokan, kiriman, teluh, pelet, dan lain yang sejenisnya.

Orang Betawi mendefinisikan sakit  atau penyakit dengan kata enggak enak  badan, meriang, gering, dan mangkig. Itu  menggambarkan jenis penyakit ringan.  Untuk penyakit berat (terutama bagi  mereka yang berdosa, kualat, duraka/durhaka), disebut kedalon dan seksaan  bale. Untuk penyakit yang tidak diketahui sebab-musababnya, disebut bikinan  atau kiriman.

Dalam tradisi lisan Betawi, semua jenis  penyakit—baik ringan, berat, maupun  kiriman— dapat diikhtiarkan penyembuhannya dengan jampe. Penyembuhan dengan jampe harus melalui kemahiran dukun yang memenuhi persyaratan. Sebuah  tuturan jampe yang difungsikan untuk  penyembuhan kurang ampuh jika tanpa  pelengkap atau pendukung utamanya.

Dalam masyarakat Betawi, jampe adalah bacaan yang sering atau biasanya  dibaca dengan cara nggrendeng atau  solilokui alias bersenandung. Namun,  bacaan itu bersifat sangat pribadi karena hanya orang-orang tertentu (du kun atau ‘orang pinter’) yang memiliki  kemampuan membacanya. Apalagi jika  jampe dianggap sebagai pusaka yang diwariskan leluhur dan harus dijaga serta  dirawat.

Bagi dukun, jampe ialah pemake  atau media yang digunakan untuk menghubungkan alam kasar (manusia) dengan  alam alus (penguasa alam semesta).  Artinya, menciptakan relasi mikro dan  makrokosmos.

Untuk menajamkan power dan efektivitas, ritual pembacaan atau pengamalan  jampe membutuhkan media bantu dan  lelaku khusus, tertib, ajeg, dan disiplin.  Ritual itu sudah berbeda antara dahulu  yang pra-Islam dengan sekarang.

Ritual yang sekarang kerap dilakukan, misalnya, puasa 40 hari,  termasuk puasa mutih dan tetirah atau  ziarah ke makam keramat wali Allah.  Setelah sembahyang magrib dan subuh  atau melazimkan sembahyang malam,  mengamalkan wirid sesuai dengan yang diniatkan. Wirid yang dilafalkan, misalnya surah Al-Fatihah, tujuh kali ditujukan  kepada Nabi Muhammad SAW; membaca  surah Al-Fatihah tujuh kali ditujukan  kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani; mem baca ya sayyidi ya rasulullah selama 30  menit dengan khusyuk; membaca kalimah taibah laa ilaaha illallah sebanyak  3.000 kali.

Dengan amalan semacam itu, hati akan terang,  pintu ilmu gaib akan terbuka dan mudah  menguasai bermacam ilmu gaib.

Begitu beragamnya jenis penyakit,  begitu pula dengan jenis jampe. Orang  yang kadang-kadang mempermainkan  jampe untuk tujuan-tujuan yang tidak  semestinya dapat berdampak negatif  bagi dirinya. Biasanya orang itu terkena  dampak negatif atau disebut ketulah.  Adapula orang yang benar-benar serius  ingin berprofesi sebagai dukun, tetapi  mental spiritualnya tidak mendukung,  akan gagal. Orang seperti itu disebut enggak kuat bawa ilmu. Perilakunya tidak  normal. Tahap yang paling kritis bagi  orang ini ialah menjadi gila.

Secara umum, mengacu kepada cultural sytem (sistem nilai budaya) yang  telah digagas leluhur masyarakat Betawi,  jampe dibagi menjadi empat ragam  utama dikaitkan dengan fungsi dan ke praktisannya. Pertama, jampe koncian,  yaitu jejampean yang digunakan untuk  menjaga dan melindungi diri dari berbagai gangguan yang nyata maupun  yang gaib. Kedua, jampe setiar atau jalan  usaha, yaitu jampe yang dimanfaatkan  untuk keperluan berusaha dan berniaga  di dalam segala lapangan serta profesi.  Ketiga, jampe beborehan, yaitu jampe  yang difungsikan untuk pengobatan dan  penyembuhan berbagai jenis penyakit.  Keempat, termasuk jempe kemaslahatan.

Jampe kemaslahatan termasuk di  dalamnya hal-hal praktis yang tidak masuk ke kelompok satu, dua, dan tiga. Misalnya, jampe mikat (menangkap) burung  atau memancing ikan dan sebagainya.

Tentu keempat kelas jampe yang dikemukakan dan berlaku pada masyarakat  Betawi bukan suatu kemutlakan. Penggolongan itu hanya untuk mempermudah  penempatan dan pemanfaatannya dilihat  dari sisi penggunaan di masyarakat selain  tentu untuk membantu kaum akademisi  dalam upaya menganalisis isi yang terkandung di dalamnya.

Warisan leluhur

Siapakah yang menciptakan jampe?  Dapat dipastikan jampe diciptakan oleh  para leluhur yang memiliki kemampuan  membaca gejala alam. Leluhur atau bebongkot itu tidak terlacak namanya, tetapi  dapat diduga profesinya, seperti resi, kiai,  pujangga, dan orang pinter lainnya. Profesi seperti itu jelas disandangkan kepada  orang yang ahli dalam menciptakan atau  merangkai teks sastra dan tata bahasa,  ahli memainkan kata-kata, mahir dalam seni suara, pandai mengarang dan  bercerita. Selain itu, ia memiliki pengetahuan mengenai hal yang ‘kasar’ dan  ‘halus’, arif bijaksana, dan memiliki daya  ingatan kuat dan tajam.

 

Apakah jampe dan dukun masih eksis  dan ditransmisi saat ini? Tentu saja masih. Di beberapa kampung yang masih  melazimkan ritus sedekah bumi atau  baritan, seperti di Pondok Rangon (Jakarta Timur) Kampung Setu, Setu Babakan Srengseng Sawah (Jakarta Selatan),  Marunda Pulo (Jakarta Utara), dan Muara  Tawar (Bekasi), masih melengkapinya  dengan jampe dan dukun (juru kunci).  Lapis dukun yang lebih muda kini sudah  berani tampil di hadapan publik. Meski  penampilannya lebih memperlihatkan nilai pariwisatanya, mereka tetap memiliki  nilai positif setidaknya untuk menerus kan tradisi leluhur. **

Yahya Andi Saputra, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan DKI  Jakarta; Wakil Ketua Lembaga  Kebudayaan Betawi (LKB).