H. Surya Bonang: GURU DALANG DARI BETAWI

June 21, 2026

bonang1

asih aktif mendalang dan terus mendidik dalang-dalang baru Wayang Betawi. la yakin dan bertekad, Wayang Betawi tak akan punah.

Wah dasar jurig …bertindak seenak jidat …kalu berani jangan pada pe-rempuan …ama laki-laki kalu bera-ni…Dewi Sumbadra tanpa dosa dibunuh di Madukara…”

Terdengar penggalan untaian kata-kata Dalang Wayang Betawi, H. Surya Bonang, saat mendalang di Museum Wayang, Jakarta Pusat, ditingkah suara rebab, te-rompet, gendang, bonang, saron, kede-mung, jengglong, gambang, dan kecrek.

H.Surya Bonang yang mendalang sejak 1959 yakin bahwa Wayang Betawi masih banyak penggemar. “Walaupun dari kalangan yang biasa disebut masyarakat pinggir,” ujar Surya Bonang.

Penonton Wayang Betawi, menurut pengamatannya, bukan hanya masyarakat asli Betawi, tetapi juga dari suku lain terutama suku Jawa. “Kalau orang dari Jawa kan memang udah berdarah wayang. Karena karakter manusia atau akhlak, ambilnya dari wayang,” ujar mantan anggota Dewan Pedalangan Wayang Kulit Betawi yang sekarang menjadi anggota Dewan Penasihat Dalang di Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) ini.

Apalagi cerita dasarnya sama dengan wayang pada umumnya. Yaitu Ramayana dan Mahabharata. Penekanan ciri khas Wayang Betawi adalah pada bahasa. “Kite poke bahasa Betawi. Cuman kalu Betawi mah bebas, bahasanya gado-gado. Ada Jawa, ada Sunda, kelotokannya ya Betawi,” ujar Bonang. Sayangnya, kata Bonang, “Kita kurang kegiatan untuk memperkenalkan wayang kepada anak-anak kita. Akibatnya, saya lihat di tv, di acara Cerdas Cermat, anak SD ditanya perang Baratayudha nggak tahu.”

Bonang sendiri mengenal wayang sejak tamat SD. Kelahiran Jagakarsa (Jakarta Selatan), 30 September 1945 ini, sebetulnya ingin menjadi guru, karena saat di bangku SD Desa Putra, dipujikan sebagai anak pandai oleh kepala sekolahnya. Namun ketika tamat SD pada tahun 1956, lalu meminta kepada orangtuanya agar boleh melanjutkan ke SGB (Sekolah Guru Bawah, sekarang SPG-Sekolah Pendidikan Guru), jawab sang ayah, “Ya udah dah yang penting jangan buta huruf. ltu bulak, ngoret aja dulu.”

“Nah itu, otak saya puyeng. Saya mau lanjut sekolah, disuruh tani,” tutur Bonang. Maka anak Datang Nasim dari istri keduanya Yamah ini, memutuskan untuk pergi dari rumah. la mengembara ke Cirebon, Banten, Bandung, Yogyakarta. Ketika kembali ke Jakarta, di Cijantung bertemu dengan rombongan wayang yang tukang terompetnya mengenali Bonang.

“‘Nah lu lagi ngambek nih, ayo ikut ke panggung’, dia kata begitu. Saya ikut ke panggung, dikasih makan, paginya dikasih uang, wah enak juga manjak nih. Mulai dari situ deh, saya terus,” tutur Bonang.

Kemunculan Bonang dimulai saat dalam sebuah perhelatan sang dalang tidak datang. Si pengundang sudah mengancam akan membakar perabotan wayang, ketika kemudian Bonang nekat maju. “Saya nekat, yang penting nyelametin alat. Saya ndalang semaleman, padahal saya belum tahu apa-apa tentang dalang,” tutur Bonang.

Esoknya, Bonang minta diajari oleh sang dalang. ltulah pertama kali ia belajar mendalang. la pun kemudian berpuasa sebagaimana keharusan seorang dalang. “Begitu turun puasa terus ada undangan ke panggung. Terus aja nggak brenti-brenti,” tutur Bonang, yang pada 1959 dikenal sebagai Datang Cilik.

Sambil bekerja membuat kuas, sikat botol, dan sapu ijuk, ia menimba ilmu dari dalang-dalang senior – yang ketika itu cuma ada delapan orang -dengan cara memerhatikan gaya mereka. Khusus dari dalang Naman, Bonang ditambah bekal kebatinan. “Namanya dalang, kalu nggak ada kebatinannya, nggak bisa njiwain wayang,” kilah Bonang, yang untuk itu harus berpuasa 40 hari penuh dan baru berbuka di hari terakhir bersama gurunya, serta mandi kembang. Sejak itu, ketenarannya memang melebihi gurunya.

Kepopulerannya – meskipun setelah menjadi dalang, mengubah nama aslinya Bonang Nasim menjadi Surya Bonang – terdengar pula oleh ayahnya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini, diminta kembali ke rumah.

“Uak lu mau ngawinin, suruh main wayang,” begitu alasan sang ayah, yang ternyata kemudian sangat bangga kepada Bonang. Ayahnya pula yang kemudian menikahkannya dalam usia 18 tahun, pada 12 Mei 1962, tepat setelah tiga tahun menjadi dalang. Pernikahannya dengan Kuil Asmuni, yang adalah adik dari istri abangnya, memberinya delapan orang anak dan bertahan sampai sekarang. “Cukup satu istri, hahaha … ” ujarnya, tergelak. la tak mau mengikuti kebiasaan dalang yang umumnya mempunyai istri lebih dari satu, bahkan ayahnya yang mempunyai lima istri. “Ya orang kawin berapa aja kalu nggak mampu untuk apa,” kilah Bonang, yang saat ditemui masih merawat ibunya.

Bonang, yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1974 ini, sadar akan banyaknya ujian bagi dalang. “Pengaruhnya kebanyakan perempuan-perempuan. Jangan dilayani,” tegasnya. Kalau dilayani, “Berarti shahadat kita hancur. Apa pun usaha kita nggak bakalan maju, saya jamin.”

la mengalami masa kejayaan terutama pada tahun 1975-1976, manggung bersama grupnya Marga Juwita, yang ia bentuk pada 1970. Saya pernah manggung wayang tiga bulan, pere’ 4 malem. Sampe bikin rumah. Saya kawin boleh ndalang, bikin rumah boleh ndalang. lni rumah sendiri,” ujarnya, menunjuk rumahnya yang luas, tak jauh dari rumah ayahnya yang meninggal pada 1965.

Salah satu hari yang selalu ia pilih untuk libur, dan itu berlaku sampai sekarang, adalah hari Selasa. Bukan saja tidak mau menerima order tetapi juga tidak mau mengeluarkan uang. “Umpama kereta api, malam Selasa sama hari Selasa kita harus ada di setasiun. Nggak boleh bergerak,” tandasnya. Kebiasaan itu mengikuti kepercayaan leluhur keluarganya. Kenapa? “Kalu Selasa, bijinya Biji Tiga, dewanya Dewa Api. Api, barang apa pun yang datang ke situ, akan habis dimakan,” jelasnya.

Kini, dalam usia 62 tahun, pemenang piala bergilir dan juara I Festival Datang Wayang Kulit Betawi I (1978) ini, mengaku bersyukur, karena masih mendapat kesempatan mendalang 4-5 kali sebulan, semalam suntuk dari jam 10 malam hingga jam 4 pagi, dengan pembayaran sekitar Rp4 juta-Rp5 juta. la banyak disukai karena cerita carangan, seperti enam judul yang sudah ia tulis. Yaitu Darma Sejati, Panca Sakti, Jaya Sakti, Brajamusti, Sukmageni, dan Braja Lamatan. 

“Dalang sebetulnya tidak terbatas usia. Walaupun usia 70-80 tahun, kalau peminat masih ada, masih bisa terus. Tergantung fisik dan tenaga. Alhamdulillah saya masih merasa mampu. Belum pernah diserepin kalau saya ndalang,” ujar Bonang, yang menjaga kesehatan dengan minum lempuyang, bratawali, telur ayam kampung.

la juga tetap menjalankan puasa. “ltu keyakinan, nggak bisa hilang. Namanya dalang, kalau nggak punya keyakinan, ndalang sih ndalang, cuma kayak sayur tanpa garem,” ujar Bonang, yang setiap tanggal 1 bulan Jawa, berpuasa tidak makan dan tidak minum selama tiga hari. Namun ia juga sadar bahwa tetap saja kekuatan fisik ada batasnya. Maka sejak empat tahun lalu, ia menyiapkan 4 hektar lahan di Bogor, yang ia tanami rambutan, mangga, jengkol, alpukat, pete dan kelapa. “Kalau fisik untuk ndalang udah nggak mampu, saya mau tani,” ujar Bonang, yang dalam karirnya sempat membuat rekaman kaset dan menjadi pengisi acara di radio swasta.

Selain mendalang, setelah bangun subuh dan berjalan-jalan sekitar rumah atau membersihkan halaman, kerap menerima tamu yang menderita sakit seperti gula, tumor, paru-paru. “Kalau ngobatin saya nggak bisa. Cuma saya mohon kepada Allah, minta kemurahan Allah,” ujar Bonang, yang untuk “pengobatan” ini tidak memungut biaya. Penerima Hadiah Seni dari Mendikbud (1996) ini, sebetulnya ingin ada anaknya yang jadi penerus. Tapi nampaknya tidak ada. “Mungkin anak saya lihat kerjaan bapaknya terlalu berat – harus tekun, harus puasa,” kilah Bonang, yang justru sedang berupaya mencarikan modal untuk anak-anaknya berwiraswasta.

Sebagai pengganti kekecewaannya, peserta Penataran Dalang OKI Jakarta (1991) ini, bersemangat sekali mengajar. Baik sebagai anggota tim penatar di Pepadi, yang sudah mendidik sekitar 30 dalang khusus Wayang Betawi, maupun murid-murid yang khusus ke rumahnya.